Antisipasi Kemarau Panjang 2026, Pemkab Natuna Gelar Rakor Strategis Penanganan Karhutla

You are currently viewing Antisipasi Kemarau Panjang 2026, Pemkab Natuna Gelar Rakor Strategis Penanganan Karhutla

WartaKominfo – Pemerintah Kabupaten Natuna mengambil langkah cepat guna menghadapi ancaman musim kemarau panjang yang diprediksi melanda sepanjang tahun 2026. Bupati Natuna, Cen Sui Lan, memimpin langsung Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Ruang Rapat Kantor Bupati Natuna, Bukit Arai, Rabu (25/3/2026).

Rapat krusial ini dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), termasuk perwakilan Lanud Raden Sadjad, Lanal Ranai, Kodim 0318/Natuna, Kapolres Natuna, Kepala Kejaksaan Negeri Natuna, serta para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait seperti BPBD, Damkar, Dinas Lingkungan Hidup, dan BMKG.

Dalam arahannya, Bupati Cen Sui Lan menegaskan bahwa koordinasi lintas sektoral sangat penting untuk memetakan langkah taktis, mengingat Karhutla merupakan ancaman tahunan saat musim panas di Natuna.

“Saya berharap kehadiran kita ini dapat mempersiapkan langkah-langkah yang akan di ambil. Apakah langkah-langkah yang kita ambil dulu sudah sesuai SOP atau belum, maka hari ini akan kita bahas bersama”, ujar Cen Sui Lan.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Natuna, Muhammad Syawal memaparkan beberapa laporan kejadian kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Natuna selama beberapa tahun terakhir.

Syawal menyampaikan, di tahun 2021, daerah yang terbanyak kejadian karhutla di Kecamatan Bunguran Tengah yakni di darah Binjai perbatas Kecamatan Bunguran Tengah dengan Bunguran Barat dan Bunguran Selatan. 2023 ada 72 kejadian, yang terbesar . 2024 ada 114 kejadian, dan terbesar. 2025 ada 124 kejadian dan yang terbesar terjadi di Kecamatan Bunguran Timur. Di 2026 sampai dengan bulan Maret sudah tercatat 52 kejadian Kebakaran hutan dan lahan.

Syawal menekankan perlunya pembangunan pos penjagaan permanen di titik-titik rawan, seperti wilayah Binjai yang rentan terjadinya kebakaran setiap musim panas melanda.

“Harapan kami juga perlu adanya pos penjagaan di lokasi titik-titik yang rawan kebakaran tersebut.” ungkap Syawal.

Pada kesempatan yang sama, Pihak BMKG Natuna yang diwakili oleh Asrul menyampaikan, pada bulan Februari sampai April 2026, di wilayah Natuna mengalami titik terendah curah hujan yang dipengaruhi oleh El Nino (fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah-timur di atas rata-rata normal) yang meningkatkan risiko kekeringan panjan dan karhutla.

Asrul juga menerangkan bahwa pada tahun ini, di Indonesia musim kemarau akan terjadi lebih awal, yang di pengaruhi oleh Angin Muson Australia dan diperkirakan masih akan terjadi sampai dengan bulan Mei 2026 nanti.

Angin Muson Australia adalah angin timuran dari Benua Australia sedang bertiup menuju Indonesia. Angin ini dikenal membawa massa udara kering. Udara kering tersebut menghambat pertumbuhan awan hujan, yang seharusnya dapat membantu meredakan suhu. Kondisi ini membuat udara terasa sangat terik dan kering, dan Natuna akan kena imbasnya.

“Puncaknya kemarau di wilayah Natuna terjadi di bulan Maret ini dan kemungkinan masih akan terjadi sampai bulan April bahkan Mei, sehingga akan ada beberapa potensi kebakaran yang akan terjadi di beberapa titik di wilayah Kabupaten Natuna” terang Asrul.

Rapat koordinasi ditutup dengan kesepakatan seluruh instansi untuk meningkatkan patroli bersama dan memperkuat edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.