web site hit counter
Home / Natuna News / Membangun Kelautan dan Perikanan Natuna

Membangun Kelautan dan Perikanan Natuna

Tgl Rilis: Wednesday, 4 February 2015 | 03:18

Pidato Bupati Natuna, dalam Acara Hari Pers Nasional (HPN) 2015 di Tanjungpinang (03 Februari 2015)
Natuna dikenal luas di Indonesia dan di dunia karena dua hal, yakni karena Migas dan karena Hasil Lautnya, Kalau soal Migas, memang sudah dikenal sejak dulu, tapi soal Hasil Laut terutama ikan, tentu berkat Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan; Susi Pudjiastuti, yang konsen mengekspose besarnya kerugian sektor kelautan, yang dijarah Nelayan Asing dan Program Poros Maritim Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Tetapi jangan dibayangkan, bahwa Natuna telah menikmati limpahan Gas Bumi dan Ikan di laut Natuna. Soal Gas bumi, hari ini begitu musim Utara, cari elpiji 12 kg saja susah mendapatkannya. Karena Natuna harus mengimpor dari Pontianak atau Tanjungpinang, kalau gas 5 kg atau yang dikenal dengan gas melon, Natuna belum menerima satu pun.

Soal Ikan, meskipun di laut Natuna beroperasi ribuan kapal ikan (nelayan), baik dari dalam dan luar negeri, tetapi tidak satupun yang dimiliki oleh masyarakat lokal atau nelayan Natuna. Nelayan Natuna adalah nelayan tradisional, yang sejak nenek moyang melaut menggunakan kolek dayung atau pompon, dengan kapasitas hanya rata-rata di bawah 3 ton, dengan alat pancing, atau bubu. Mereka adalah nelayan individu, bukan nelayan pengusaha, sekelas UKM pun belum ada.

Pemeritah Natuna bukan tidak ingin membuat nelayan tradisional Natuna meningkat, menjadi pengusaha nelayan yang punya armada kapal, seperti saudara-saudara nelayan di Tanjungbalai Karimun, Nelayan Tegal atau Nelayan Tanjungbalai Asahan. Tetapi ada banyak faktor yang membuatnya sulit terwujud akan rencana dan tujuan tersebut. Saat ini, Natuna masih kekurangan kuota BBM jenis solar, terutama solar subsidi untuk nelayan. Sejak Natuna terbentuk menjadi Kabupaten, 15 tahun yang lalu sampai sekarang tidak pernah dapat tambahan kuota BBM. Pemerintah Natuna sudah mengajukan permintaan ke Pemerintah Pusat terdahulu, melalui PT. Pertamina dan BPH Migas. Tetapi tak satupun surat dibalas, untuk mengajukan sekelas ijin APMS atau SPDN saja, hingga kini tak terwujud. Seorang pengusaha mengurus ijin APMS yang sudah direkomendasi oleh Bupati, dan minta tambahan kuota sejak 2008, hingga hari ini tak tembus, alasannya klasik, kuota BMM Natuna tak mencukupi.

Sungguh ironi dan miris, Natuna yang terkenal kaya Migas, tapi tak dapat kuota tambahan BBM. Bagaimana Nelayan mau maju, kalau bahan bakarnya terbatas, dengan pompong 3 ton saja, rata-rata nelayan membutuhkan minimal 50 liter solar untuk melaut selama 5 (lima) hari. Tetapi sekarang untuk dapat 10 liter saja, susahnya minta ampun. Karena tentu saja kuotanya tidak mencukupi. Akibatnya nelayan Natuna sulit berkembang dan maju.

Jangan bayangkan Nelayan Natuna bisa pakai armada kapal yang di atas 3 ton atau hingga 30 ton, mereka dijamin tidak akan mendapat BBM. Sedangkan jika mereka harus menggunakan BBM industry (non subsidi), tentu tidak akan balik modal.

Selain BBM, faktor lain juga belum sepenuhnya mendukung. Listrik yang juga fital hingga saat ini belum sepenuhnya menyala 24 jam (non stop). Terutama untuk wilayah/daerah di kepulauan. Nelayan butuh es, butuh sarana pengolahan dan sarana pendukung lainya, seperti coolstorage misalnya. Tetapi jika listriknya seringlah MATI daripada HIDUP, tentu juga akan sulit mendukung proses pengolahan dari hasil tangkapan di laut.

Tetapi kendala ini tentu tidak mengendurkan semangat Pemerintah Natuna, dalam membangun sektor kelautan, kita akan tetap membangun sebisa mungkin, sambil menunggu saat yang tepat.

Di bidang Wisata Kelautan, Natuna juga mempunyai banyak pulau yang eksotik, Pantai yang cantik berpasir putih, tak kalah dengan Maladewa. Seperti kata bu Susi Pudjiastuti, saat berkunjung ke Natuna “kita juga ingin sektor wisata ini berkembang”.

Saat ini Pemerintah Natuna sudah membangun gerbang investasi, berupa Bandara Enclave Sipil, yang in-sya-Allah akan kita resmikan bulan Mei 2015 mendatang. Tetapi bayang-bayang kekurangan BBM dan Listrik, membuat kami juga was-was, apa nanti bandara ini bisa beroperasi optimal atau tidak???

Maka pada kesempatan ini, kami memohon kepada Pemerintah Pusat untuk membantu Natuna, dan memperioritaskan beberapa hal ini, untuk membangun sektor maritim di Natuna.

Jika dibuatkan daftar, berikut beberapa faktor yang sangat fital yang kami butuhkan, guna terwujudnya Pembangunan di Sektor Kelautan dan Perikanan yang maksimal di Natuna :
1. Litrik di Natuna tahun 2015 ini saja butuh tambahan 7 MW, dari yang ada saat ini 5,2 MW . Karena kami akan mengoperasikan Bandara Enclave Sipil, yang sebentar lagi akan rampung pembangunannya. Kemudian menunjang operasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), yang sudah diresmikan Pak Wapres Jusuf Kalla sejak tahun 2008 yang lalu, serta beroperasinya Pasar Modern yang sekarang dalam tahap pembangunan, dan tentu juga untuk Pelabuhan Perikanan yang sudah dan akan dibangun oleh Kementrian KKP tahun 2015 ini.
2. Kami mengajukan permintaan melalui Menteri ESDM, agar diberikan jatah kuota GAS sebanyak 50 Mbbtu per bulan. Gas ini untuk menyuplai pembangkit listrik di Natuna, karena ada investor yang akan bersedia membangunnya, tetapi terkendala kuota gasnya yang kurang. Tentu saja jika memungkinkan, Gas ini juga bisa untuk menggerakkan armada nelayan, seperti program Bu Susi Pudjiastuti, agar nelayan tradisional tak tergantung sepenuhnya dengan solar, yang saat ini kuotanya sangat-sangat tidak cukup.
3. Kami mengajukan penambahan kuota BBM untuk Natuna. BBM ini untuk nelayan, juga untuk pembangkit listrik di sejumlah wilayah/daerah di pulau yang berada di perbatasan dan terluar.
4. Kami butuh bantuan Pemerintah Pusat, untuk membangun dermaga atau pelabuhan bagi perahu nelayan di sejumlah pulau, agar bisa meningkatkan kesejahteraan dan memudahkan mobilisasi hasil tangkap nelayan. Total ada 25 pelabuhan yang kami rencanakan dibangun, secara bertahap dan berkelanjutan.
5. Jika di Laut Natuna ada ribuan kapal Asing beroperasi dan mengambil ikan, kenapa Pemerintah Pusat tidak membangun Armada Tangkap untuk menyaingi kapal ikan asing ini? untuk itu, Pemerintah Natuna berharap Pemerintah Pusat bisa memfasilitasi terbentuknya Armada Tangkap milik BUMN yang berpangkalan di Natuna, kami berharap armada ini dilengkapi dengan Manajemen yang baik, dan Tenaga Ahlinya, agar Masyarakat Nelayan Natuna bisa belajar dan berlatih.
6. Terkait Moratorium Ijin Kapal Tangkap yang Bu Menteri Susi Pudjiastuti berlakukan, kami berharap ke depan, jika ada kapal penangkap yang diijinkan beroperasi di laut Natuna, maka Kementerian mewajibkan perusahaan dan kapal tersebut berpangkalan di Natuna, mereka harus bersandar di pelabuhan perikanan Natuna, berangkat dan bongkar muat juga dari pelabuhan Natuna. Kami dari Pemkab. Natuna akan menyiapkan regulasi sesuai kewenangannya.

Natuna terletak di : 1016’ – 7019’ LU dan 105000’ – 110000’ BT, dengan batasan wilayah :
a. Bagian Barat : Kabupaten Kepulauan Anambas dan Malaysia Barat;
b. Bagian Timur : Kalimantan Barat dan Malaysia Timur;
c. Bagian Utara : Vietnam dan Kamboja; dan
d. Bagian Selatan : Kabupaten Bintan.

Di wilayah Natuna, ada 7 Pulau terdepan dan memiliki Panjang Garis Pantai : 460 km. Kemudian memiliki Jumlah Pulau : 154 Pulau, terdiri dari :
a. yang berpenghuni : 27 Pulau (17,53%); dan
b. belum berpenghuni : 127 Pulau (82,47%).

Wilayah Laut Natuna memiliki potensi lestari perikanan tangkap yang cukup besar, yaitu mencapai 504.212,85 ton, sesuai dengan pendekatan kajian KOMNASKAJIKAN/KEPMEN NO. 45/MEN/2011. Sumber daya ikan yang mendominasi, terdiri dari :
1. Kelompok Ikan Pelagis Besar : 31.520,16 TON;
2. Pelagis Kecil : 296.455,50 TON;
3. Demersal : 159.699,60 TON;
4. Ikan Karang : 10.288,89 TON; dan
5. jenis lainnya : CUMI, UDANG, KEPITING DAN LOBSTER (6.248,70 TON)).

Ikan yang dominan ditangkap, adalah :
1. IKAN TONGKOL (Auxis sp);
2. MANYUNG (Arius sp);
3. CUCUT (Sphiraena sp);
4. SELAR (Caranx sp);
5. TEMBANG (Sardinella sp); dan
6. KEMBUNG (Restrelliger sp).

Beberapa jenis Ikan Karang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, adalah :
1. IKAN NAPOLEON (Cheilinus undulatus);
2. IKAN KERAPU (Ephinephelus, Chephalopholis dan Plectropomus);
3. IKAN KAKAP (lutjanus dan symphorus);
4. IKAN SELAR EKOR KUNING (caesio);
5. IKAN LEBAM (siganidae, bolbometopon, lethrinus, dan plectorhinchus); dan
6. IKAN PARI (taeniura, dan labracinus).

Nelayan di Kabupaten Natuna, hampir tersebar merata di 12 Kecamatan, yang berjumlah ± 10.857 orang, atau 3.619 RTP (Rumah Tangga Perikanan), dengan perincian sebagai berikut :
1. NELAYAN UTAMA : 4.319 orang;
2. NELAYAN SAMBILAN UTAMA : 3.722 orang; dan
3. NELAYAN SAMBILAN : 2.816 orang.

Rata-rata armada yang digunakan untuk operasi penangkapan ikan, antara 3 – 5 GT. Dengan menggunakan alat tangkap pancing ulur, rawai dan pancing tonda (handline), dengan perincian sebagai berikut :
1. Sampan/PTM : 1.123 unit
2. Perahu Motor Tempel : 92 unit
3. Kapal Motor 1 s/d 5 GT : 2.340 unit
4. Kapal Motor 5 S/D 10 GT : 382 unit
5. Kapal Motor 10 S/D 20 GT : 25 unit
6. Kapal Motor 20 S/D 30 GT : 2 unit (INKAMINA-87 dan INKAMINA-600)

Total perkiraan produksi perikanan tangkap di Tahun 2014 sebesar 47.341,58 ton. Jadi realisasi capaian melebihi target yang direncanakan, yakni : 46.781,97 ton, dengan nilai persentase 101,19%. Produksi perikanan tangkap nelayan lokal, sebesar 47.341,58 ton.

Total nilai produksi perikanan tangkap, diperkirakan mencapai 833,267 MILYAR RUPIAH. Produksi perikanan tangkap baru, mencapai 9,39% dari potensi lestari.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan, Nomor PER. 01/MEN/2009, tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP-RI), untuk Kabupaten Natuna termasuk dalam WPP-RI 771, yang meliputi perairan Selat Karimata, Laut Natuna dan Laut Cina Selatan. Area Fishing Ground mencakup ± 75,5% dari luas WPP-RI 711.

Untuk mengembangkan potensi yang dijelaskan di atas, maka Natuna membutuhkan prasarana Perlabuhan Perikanan yang saat ini masih dalam tahap Perencanaan dan Pengembangan. Dengan rincian sebagai berikut :
1. Kecamatan BUNGURAN UTARA : 4 (EMPAT) UNIT;
2. Kecamatan BUNGURAN TIMUR LAUT : 3 (TIGA) UNIT
3. Kecamatan BUNGURAN TIMUR : 10 (SEMBILAN) UNIT
4. Kecamatan BUNGURAN BARAT : 9 (DELAPAN) UNIT
5. Kecamatan BUNGURAN SELATAN : 3 (DUA) UNIT
6. Kecamatan PULAU TIGA : 15 (LIMA BELAS) UNIT
7. Kecamatan PULAU LAUT : 8 (DELAPAN) UNIT
8. Kecamatan MIDAI : 5 (LIMA) UNIT
9. Kecamatan SERASAN : 14 (EMPAT BELAS) UNIT
10. Kecamatan SUBI : 4 (TIGA) UNIT

Saat ini di Natuna hanya ada Nelayan tradisional yang menggunakan alat tangkap yang dominan, sebagai berikut : PANCING ULUR, PANCING TONDA, BAGAN, JARING PANTAI, KELONG, RAWAI, BUBU, TANGKUL dan alat lainnya.

Untuk mengembangkan Potensi Perikanan Budidaya, Nelayan pembudidaya yang tersebar di seluruh Kecamatan berjumlah ± 1.040 RTP (Rumah Tangga Perikanan), dengan kriteria sebagai berikut :
a. Nelayan Pembudidaya Ikan Air Laut : 872 RTP
b. Nelayan Pembudidaya Ikan Tawar/Payau : 142 RTP
c. Nelayan Pembudidaya Rumput Laut : 24 RTP

Sarana yang digunakan untuk usaha budidaya perikanan, terdiri dari :
1. Keramba Jaring Tancap (KJT)
2. Keramba Jaring Apung (KJA)
3. Kolam Air Tawar

Sedangkan budidaya rumput laut, menggunakan metode Rakit dan Long-Line, dengan kriteria sebagai berikut :
1. Keramba Jaring Tancap (KJT) : 301 Unit
2. Keramba Jaring Apung (KJA) : 233 Unit
3. Kolam Air Tawar : 70.030 M2
4. Rakit/Long-Line : 50.500 M2

Produksi perikanan budidaya cenderung mengalami penurunan, terutama komoditas rumput laut, dengan total produksi sebesar 733,69 TON, dengan rincian sebagai berikut :
a. Budidaya Ikan Air Laut : 374,80 TON
b. Budidaya Ikan Air Tawar/Payau : 217,57 TON
c. Budidaya Rumput Laut (basah) : 142,36 TON

Total nilai produksi perikanan budidaya, diperkirakan mencapai 49,464 miliar rupiah. Pengolahan hasil perikanan yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Natuna, adalah Kelompok-kelompok Pengolah Skala Rumah Tangga (POKLAHSAR) yang tersebar di 3 Kecamatan : Kecamatan “Pulau Tiga, Bunguran Timur dan Bunguran Selatan. Dengan jumlah sebanyak 56 POKLAHSAR atau 290 Pengolah. Antara lain :
1. KERUPUK ATOM : 10 Pengolah
2. KERUPUK IRIS : 245 Pengolah
3. PENGASAPAN : 10 Pengolah
4. PENGERINGAN/PENGGARAMAN : 10 Pengolah
5. FERMENTASI : 10 Pengolah
6. OTAK-OTAK : 5 Pengolah

Total produksi pengolahan ikan yang dikelola POKLAHSAR, mencapai 6.894 kg atau 6,9 ton.

PENGEMBANGAN Potensi Kelautan di Natuna membutuhkan regulasi, sebagai berikut :
1. Pengembangan Industri Perikanan Tangkap Modern (KI > 30 GT), yang mampu memanfaatkan Sumber Daya Ikan Perairan Lepas Pantai dan ZEEI; Peningkatan produktivitas dan efisiensi perikanan tangkap skala kecil;
2. Penerapan kebijakan ”limited access” (managed capture fisheries) sesuai potensi produksi lestari (MSY) di setiap wilayah penangkapan (fishing ground);
3. Pembangunan atau pengembangan pelabuhan perikanan, sebagai kawasan industri perikanan terpadu (MINAPOLITAN);
4. Peningkatan kualitas dan kapasitas SDM nelayan melalui DIKLATLUH secara sistemik dan berkesinambungan;
5. Pengembangan sistem transportasi produk perikanan;
6. Pengembangan sistem logistik penyediaan bahan bakar minyak;
7. Penyediaan sarana produksi perikanan tangkap (alat tangkap, BBM, dan perbekalan melaut), dengan harga relatif murah dan jumlah yang mencukupi;
8. Pengembangan energi baru dan terbarukan : solar, angin, dan bioenergy;
9. Pemerintah melalui kerjasama dengan swasta atau BUMD, menjamin pasar hasil tangkap nelayan dengan harga yang menguntungkan;
10. Penyediaan mata-pencaharian substitusi, ketika nelayan tidak mampu melaut akibat cuaca buruk atau paceklik ikan;
11. Perbaikan sistem bagi hasil antara ABK dan Pemilik Kapal;
12. Penyusunan mekanisme kredit pinjaman yang tepat dan aman untuk nelayan kecil;
13. Penciptaan iklim investasi usaha perikanan tangkap yang menarik;
14. Peningkatan sistem pengawasan pemanfaatan sumber daya ikan berbasis masyarakat;
15. Peningkatan penegakan hukum secara tegas;
16. Peningkatan kerjasama usaha penangkapan ikan melalui program kemitraan;
17. Pengembangan infrastruktur, aksesibilitas dan suplai energi; dan
18. Pemberantasan IUU Fishing.

(Ditulis oleh : Admin)

Official Site Manager Natuna Regency Website
Jl. Batu Sisir - Bukit Arai, Gedung B Lantai II - P. Senoa, Ranai - Natuna 29783, Indonesia.
Email: natuna@natunakab.go.id, Telp: +62-773-31554, +62-773-31554.
x

Check Also

Sosialisasi New Normal, Ngesti Sambangi Bunguran Batubi

Senin (03/08) lalu, Wakil Bupati Natuna, Ngesti Yuni Suprapti didampingi Wakil Ketua ...