Apel tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Natuna, H. Boy Wijanarko Varianto.
Selain menyiagakan personel, kegiatan ini diisi dengan gelar peralatan penanganan kekeringan dan karhutla. Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh personel, sarana, prasarana, serta peralatan penunjang benar-benar siap digunakan saat dibutuhkan.
Dalam amanatnya, Sekda Natuna H. Boy Wijanarko menegaskan bahwa tindakan pencegahan harus menjadi prioritas utama. Kesiapsiagaan perlu dibangun sejak dini melalui penguatan langkah pencegahan, pemantauan ketat, dan respons cepat.
“Jangan sampai kita baru bergerak setelah kebakaran terjadi atau sumber air mulai mengering”, ucap H. Boy.
Ia juga meminta agar seluruh peralatan pemadaman, kendaraan operasional, mesin pompa, selang, mobil tangki air, alat pelindung diri (APD), pasokan bahan bakar minyak (BBM), hingga sarana komunikasi diperiksa secara berkala.
“Jangan sampai peralatan terlihat lengkap pada saat apel, tetapi tidak dapat berfungsi dengan optimal ketika digunakan di lapangan”, lanjut H. Boy.
Terkait karhutla, Boy menyatakan bahwa pemerintah akan mengambil sikap tegas terhadap praktik pembakaran lahan secara sengaja. Pengawasan dan edukasi kepada masyarakat akan terus ditingkatkan, sementara para pelanggar akan ditindak sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku.

Sementara itu, untuk mengantisipasi potensi krisis air bersih, Boy meminta pemetaan wilayah rawan kekeringan dilakukan sejak dini. Hal ini bertujuan agar pendistribusian bantuan air bersih dapat berjalan cepat dan terencana. Ia turut mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak dan efisien di tengah musim kemarau saat ini.
Ia menekankan bahwa penanggulangan karhutla maupun krisis air tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja, melainkan membutuhkan sinergi kuat dari seluruh pihak—mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, dunia usaha, media, relawan, hingga masyarakat luas. Diskominfo/MD