web site hit counter
Home / Opini / Tabrak KRI, Bentuk Vietnam Tidak Tahu Terima Kasih Kepada Natuna; sisi historis

Tabrak KRI, Bentuk Vietnam Tidak Tahu Terima Kasih Kepada Natuna; sisi historis

Tgl Rilis: Senin, 29 April 2019 | 04:19

Sebenarnya sudah banyak kejadian penangkapan di Laut Natuna Utara dengan berbagai aksi yang dramatis antara KIA ilegal milik Vietnam dengan kapal perang Republik Indonesia. Berita yang baru saja viral terkait hal serupa bukan lagi bentuk penangkapan yang mainstream. Tindakan provokatif ditunjukkan kapal milik Vietnam yang menabrak dengan sengaja KRI Tjiptadi 381 agar proses penegakan hukum dan kedaulatan di perairan Indonesia menjadi tergangggu sehingga mengecoh anggotanya. Dengan kekuatan yang dimiliki TNI AL, dua belas ABK akhirnya dapat ditanggap dan dibawa ke Ranai untuk ditindak.

Sebagai seorang warga sipil yang tidak memiliki kepandaian apa-apa, saya mereasa hubungan kedua negara semakin memanas—sedikit lebai sepertinya. Tapi tangan terlanjur gatal untuk menyampaikan keluh kesah. Judul di atas cukup menggambarkan bagaimana inti dari pembicaraan ini.

Saya tidak mengerti lagi dengan Vietnam. Tidak pernah kapok-kapoknya berlayar di Natuna Utara hanya untuk mengambil ikan-ikan di lautnya dalam jumlah yang besar. Beberapa kali media lokal sampai nasional memberitakan perilaku buruk itu kepada masyarakat Indonesia. Memang Natuna memiliki ikan yang berlimpah di lautan, ikan-ikan itu menjadi sumber kehidupan sebagian besar masyarakat di Natuna yang berprofesi sebagai nelayan. Mereka tiap hari turun ke laut mencari rezeki dengan kapal-kapal berukuran kecil. Kalau musim utara yang dihadap, mereka harus berjuang lebih keras untuk hidup. Kapal-kapal ikan yang berbendera Vietnam itu dengan sengaja secara ilegal masuk ke perairan Natuna Utara, padahal saya yakin mereka mengetahui kalau perairan tersebut di jaga sangat ketat oleh TNI AL dengan KRI yang berpatroli di sana. Tapi memang dasarnya cenggang atau ndek pat dikabosaja.

Kalau dilihat dari sisi historis, Natuna adalah pulau pertama di Indonesia yang menerima pengungsi-pengungsi yang datang dari Vietnam saat terjadi perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Dampak yang dihasilkan dari perang saudara ini adalah rakyat Vietnam yang merasa nyawanya terancam berpindah ke negara lain yang mau menerima mereka. Sebelum catatan panjang di pusat penampungan di Pulau Galang, Beberapa negara menolak kehadiran mereka seperti Malaysia, Kamboja, Singapura dengan alasan tidak mau ikut terkena dampaknya. Namun, berbeda dengan Kepulauan Riau, khususnya Natuna yang menerima dengan lapang dada kehadiran para pencari suaka tersebut.

Memang kalau dilihat dari jarak antara Vietnam dan Natuna dapat ditarik garis vertikal. Pulau pertama yang mereka dijadikan tempat pengungsian adalah Pulau Laut yang pada saat itu jumlah pengungsi masih 25 orang. Mengingat Pulau Laut menjadi salah satu pulau terluar di Indonesia yang paling dekat dekat dengan Vietnam. Beberapa penduduk setempat memberikan bantuan berupa pakaian dan makanan kepada para pengungsi tersebut sampai mereka dipindahkan ke Jemaja dan diteruskan ke Galang. Sejarah pun mencatat peristiwa ini dalam beberapa buku.

Tidak hanya Pulau Laut, beberapa pulau lain yang menjadi tempat belas kasihan pengungsi Vietnam adalah Midai dan Serasan. salah satu pengguna pada sebuah laman berbahasa Inggris menyebutkan bahwa pada tahun 1984, Setelah mereka terapung-apung di lautan beberapa hari mereka menemukan pulau Midai. Pengungsi tinggal pada sebuah bangunan besar sekitar dua minggu. Hanya ada beberapa kapal yang berlabuh di sana.

 Apalagi kalau berbicara pengungsian Vietnam di Serasan, masih ada sampai sekarang bukti fisik bangungan yang digunakan para pengungsi Vietnam untuk berbulan-bulan berteduh dari hujan dan panas. Tidak luput pula perhatian yang diberikan masyarakat Serasan kepada pengungsi Vietnam yang datang dalam kondisi menyedihkan. Wanita yang masih dalam keadaan hamil, anak-anak yang datang tanpa orang tua mereka, para lansia, dan yang lainnya dengan pakaian ala kadarnya. Mereka diberi makanan setiap hari hasil dari sedekah masyarakat Serasan, mereka diberi pakaian layak pakai, mereka diberi uang, diberi rokok yang membuat wajah mereka sedikit dapat tersenyum dan bahagia. Sudah berapa banyak uang dan sudah berapa waktu habis untuk mengurus para pengungsi Vietnam tersebut? jumlah yang besar tentunya. Mereka dirawat dan diajak bermain oleh masyarakat Serasan selama pengungsian, tidak ada yang memberi gangguan. Terlebih saat anak yang baru lahir dari salah satu pengungsi Vietnam tersebut meninggal, masyarakat Serasan dengan cepat membantu dari proses melahirkan sampai pada proses pemakamannya. Tidak ada pungutan biaya sepeserpun, malah masyarakat membantu mereka dengan mempekerjakan mereka untuk membersih kebun dan membuka jalan dengan upah yang bikin mereka keranjingan. Tidak ada barang yang dicuri dari para pengungsi, sekali pun yang mengungsi itu sebagian orang-orang yang masih berada. Tidak ada barang yang dijarah dari tangan pengungsi saat mereka lemah dan tertidur pulas. Masyarakat Serasan tidak meminta balas budi apa-apa dari pengungsi Vietnam, untuk makan saja susah apalagi disuruh balas budi pada saat itu. Masyarakat Serasan hanya ingin mereka tetap sehat dan selamat sampai di Pulau Galang dan sampai pada negara penerima suaka.

Setidakya Pulau Laut, Midai, dan Serasan sebagai salah tiga pulau yang berada di wilayah perairan Natuna telah membuktikan bagaimana penerimaan Vietnam disambut dengan penuh suka cita. Membangun rasa kekeluargaan di antara kedua negara dengan saling membantu dan menjaga antara satu dengan yang lainnya. Kejadian yang telah terjadi di masa lampau bukan berarti harus dilupakan atau ditinggalkan, peristiwa hangat yang dibangun pada masa itu seharusnya dapat menjadi simpul ikatan yang lebih erat lagi di masa-masa setelahnya. Maka jika kita menyadari apa yang telah dibantukan orang, sebagai manusia yang bermoral dan bernorma, sebagai makhluk sosial, sebagai tetangga, tentu menjaga hubungan baik dengan yang telah membantu kita menjadi hal yang mesti.

Sampai pada saat pencuri ikan itu ditahan di Natuna, mereka harus menanggung semua akibat yang telah mereka perbuat, jauh dari keluarga dan anak, tidak bisa melaut dalam waktu panjang karena proses peradilan.  Dalam proses peradilan itu mereka tetap masih bisa berkeliaran di jalan raya. Saat matahari masih terang, mereka pergi ke pasar atau ke tempat yang mereka suka. Mereka diajari membuat kerajinan tangan seperti ayunan, miniatur kapal, sapu lidi untuk melatih kemandirian mereka di tanah Natuna. Barang-barang hasil tangan mereka itu dibeli dengan harga yang tak begitu mahal, atas alasan kasihan dengan tampang mereka tak jarang orang yang lewat membelinya. Apalagi untuk berkomunikasi masih sangat terbatas menggunakan bahasa isyarat. Mereka diberi kebebasan, diberi makan, diberi tempat tidur, mereka diajak bermain voli dan futsal, dan masih banyak lagi yang didapat.

Tapi setelah berpuluh tahun berlalu, tampaknya tidak ada hajat untuk menjaga silaturahmi antara Vietnam dan Natuna. Vietnam sudah lupa dengan kejadian yang hampir membuat mereka mati kelaparan itu. Beberapa tahun belakangan, banyak sekali kapal Vietnam yang mencuri ikan di Laut Natuna Utara, padahal sebagai negara pintar, mereka tahu hal itu tidak diperbolehkan. Mereka seenaknya mengambil ikan di Natuna dalam jumlah besar dan membawa ke negaranya. lalu nelayan tempatan yang menanggung risikonya.

Bentuk rasa terima kasih yang buruk. Tidak henti-hentinya penangkapan oleh KRI yang sedang berpatroli menemui masanya. Dalam sekali penangkapan, KRI berhasil mengamankan lebih dari satu kapal ikan berbendera Vietnam. Para nelayan itu ditahan di Natuna dalam jangka waktu yang lama, diinterogasi dengan menggunakan penerjemah, sampai mereka ditetapkan dalam penjara. Kapal-kapal mereka yang ditenggelamkan, tetap tidak membuat mereka jera. Selalu saja ada KIA ilegal yang masuk ke perairan Natuna, kadang dengan dalih bahwa perairan yang sedang mereka lewati adalah masih berada di wilayah Vietnam.

Barangkali ada salah satu dari nelayan Vietnam yang ditangkap oleh KKP dan KRI tersebut masih merupakan turunan dari pengungsi Vietnam pada puluhan tahun lalu. Lautan yang mereka lalui adalah lautan yang juga nenek buyut mereka lalui saat mengungsi. Bedanya, kalau nenek buyut mereka melewati lautan yang dulunya masih bernama Laut Cina Selatan untuk mendapatkan pertolongan, sedangkan para nelayan ilegal tersebut untuk mencari peperangan. Makanan yang diberikan kepada pengungsi vietnam pada masa lalu pasti olahan ikan laut, yang membuat perut mereka menghilangkan rasa lapar berkepanjangan di lautan. Mereka tidak meminta lebih, mereka menerima saja apa yang diberikan oleh masyarakat. Berbeda dengan cucu senegara mereka ini yang tidak membaca sejarah, bahwa hasil tangkapan ikan ilegal yang notabenenya haram itu adalah persebangsaan ikan yang juga menghidupi kakek-nenek mereka.

Latar belakang historis kedua negara ini, Vietnam dan Natuna (Indonesia) memang sangat erat. Memang pula, Natuna bukan tempat penampungan yang menjadi tujuan sebenarnya, tapi karena Natunalah para pencari suaka tersebut mendapatkan jalan menuju kehidupan yang lebih aman. Namun, bukan Natuna bermaksud meminta gila balas budi kepada Vietnam, tetapi kalau begini terus bagaimana Natuna tidak menganggap kalau Vietnam yang dulunya saudara tapi sekarang adalah musuh di lautan. Tidak perlu balas budi dengan mengganti sedekah dari masyarakat Natuna, tapi cukup membuat Laut Natuna Utara tenang dengan tidak lagi ada pengambilan ikan secara ilegal oleh Kapal ikan asing milik Vietnam.

Kehausan para nelayan Vietnam memang tidak ada habis-habisnya, entah di laut mereka ikan-ikan pada kurus dan tidak bergizi? Atau laut mereka terlalu sedikit? Atau laut mereka terlalu kecil tidak berbanding lurus dengan jumlah nelayan yang banyak? Entahlah, hal itu hanya menjadi alasan-alasan sampah. Setiap negara telah membagi jatah lautnya masing-masing, dengan garis teritorial yang telah dibuat.

Jakarta, 28 April 2019

Destriyadi Imam Nuryaddin.

Sumber : https://natunasastra2.wordpress.com/2019/04/29/tabrak-kri-bentuk-vietnam-tidak-tahu-terima-kasih-kepada-natuna-sisi-historis/#more-194

Official Site Manager Natuna Regency Website
Jl. Batu Sisir - Bukit Arai, Gedung B Lantai II - P. Senoa, Ranai - Natuna 29783, Indonesia.
Email: natuna@natunakab.go.id, Telp: +62-773-31554, +62-773-31554.
x

Check Also

Hardiknas 2019: Cegah Bangkitnya Generasi Emas Imitasi

Oleh : AJ SUHARDI Kopi Annan (SejenPBB dekade 1997-2006), dalam pidatonya tentang ...